Six Sigma adalah suatu metodologi bisnis
yang bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai kapabilitas dari suatu aktivitas
proses bisnis. Proses adalah sesuatu yang dimulai dari perencanaan, design,
produksi sampai dengan fungsi-fungsi konsumen (kebutuhan, keinginan, dan
eksperimen).
Six Sigma dimulai oleh Motorola ditahun
1980-an dimotori oleh salah seorang engineer bernama Bill Smith atas dukungan
penuh CEO-nya Bob Galvin. Secara bahasa pengertiann Six Sigma adalah sebagai berikut :
§
Six yang artinya enam
§
Sigma yang merupakan simbul dari standar deviasi, dan biasa
dilambangkan dengan σ.
Six
Sigma merupakan sebuah metodologi
terstruktur untuk memperbaiki proses yang difokuskan pada usaha mengurangi
variasi proses (process variances) sekaligus mengurangi cacat (produk/jasa yang
diluar spesifikasi) dengan menggunakan statistik dan problem solving tools
secara intensif.
Tujuan Six Sigma menurut Anang Hidayat dalam bukunya yang berjudul “Strategi Six Sigma” adalah untuk
meningkatkan kinerja bisnis dengan mengurangi berbagai variasi proses yang
merugikan, mereduksi kegagalan-kegagalan produk/proses, menekankan cacat-cacat
produk, meningkat keuntungan, mendongkrak moral personil/karyawan, dan
meningkatkan kualitas produk pada tingkat yang maksimal.
Ada enam komponen utama konsep Six Sigma sebagai strategi bisnis (Pande,
Peter. 2000):
1.
Benar-benar mengutamakan pelanggan: seperti kita sadari
bersama, pelanggan bukan hanya berarti pembeli, tapi bisa juga berarti rekan
kerja kita, team yang menerima hasil kerja kita, pemerintah, masyarakat umum
pengguna jasa, dll.
2.
Manajemen yang berdasarkan data dan
fakta:
bukan berdasarkan opini, atau pendapat tanpa dasar.
3.
Fokus pada proses, manajemen dan
perbaikan:
Six Sigma sangat tergantung kemampuan kita mengerti proses yang dipadu dengan
manajemen yang bagus untuk melakukan perbaikan.
4.
Manajemen yang proaktif: peran pemimpin dan
manajer sangat penting dalam mengarahkan keberhasilan dalam melakukan
perubahan.
5.
Kolaborasi tanpa batas: kerja sama antar
tim yang harus mulus.
6.
Selalu mengejar kesempurnaan.
Six
Sigma sebagai program kualitas juga sebagai tool untuk
pemecahan masalah. Six sigma menekankan aplikasi tool ini secara
metodis dan sistematis yang akan dapat menghasilkan terobosan dalam peningkatan
kualitas. Metodologi yang sistematis ini bersifat generik sehingga dapat
diterapkan baik dalam industri manufaktur maupun jasa.
Six
Sigma juga dikatakan sebagai metode yang berfokus pada proses dan
pencegahan cacat (defect) (Snee, 1999). Pencegahan cacat dilakukan
dengan cara mengurangi variasi yang ada di dalam setiap proses dengan
menggunakan teknik-teknik statistik yang sudah dikenal secara umum.
Keuntungan
dari penerapan Six Sigma berbeda untuk tiap perusahaan yang
bersangkutan, tergantung pada usaha yang dijalankannya. Biasanya Six Sigma
membawa perbaikan pada hal-hal berikut ini (Pande, Peter. 2000):
1.
Pengurangan biaya
2.
Perbaikan produktivitas
3.
Pertumbuhan pangsa pasar
4.
Retensi pelanggan
5.
Pengurangan waktu siklus
6.
Pengurangan cacat
7.
Pengembangan produk / jasa
Kelebihan-kelebihan
yang dimiliki Six Sigma dibanding metode lain adalah:
1.
Six Sigma jauh lebih rinci daripada
metode analisis berdasarkan statistik. Six Sigma dapat diterapkan di bidang
usaha apa saja mulai dari perencanaan strategi sampai operasional hingga
pelayanan pelanggan dan maksimalisasi motivasi atas usaha.
2.
Six Sigma sangat berpotensi
diterapkan pada bidang jasa atau non manufaktur disamping lingkungan teknikal,
misalnya seperti bidang manajemen, keuangan, pelayanan pelanggan, pemasaran,
logistik, teknologi informasi dan sebagainya.
3.
Dengan Six Sigma dapat dipahami
sistem dan variabel mana yang dapat dimonitor dan direspon balik dengan cepat.
4.
Six Sigma sifatnya tidak statis.
Bila kebutuhan pelanggan berubah, kinerja sigma akan berubah.
Secara harfiah, Six Sigma (6σ) adalah suatu besaran yang bisa kita
terjemahkan secara gampang sebagai sebuah proses yang memiliki kemungkinan cacat (defects opportunity)
sebanyak 3.4 buah dalam satu juta produk/jasa. Ide dasar dari
prinsip-prinsip Six Sigma merupakan
pengembangan dari 3-sigma Statistical Quality Control, dan rata-rata waktu yang
dibutuhkan oleh perusahaan kelas dunia untuk beralih dari tingkat operasional
3-sigma (66.738 DPMO) menjadi tingkat operasional 6-sigma (3.4 DPMO) adalah
sekitar 10 tahun., yang berarti harus terjadi peningkatan sekitar 66.807/3.4 =
19.649 kali selama 10 tahun atau rata-rata sekitar “1965 peningkatan” setiap tahun.
Pendekatan
pengendalian proses Six Sigma yang dikembangkan Motorola
mengizinkan adanya pergeseran nilai rata-rata (mean) setiap CTQ individual dari proses industri terhadap nilai
spesifikasi target (T) sebesar ± 1,5
sigma, sehingga akan menghasilkan 3,4 DPMO. Dengan demikian berdasar konsep
ini, berlaku toleransi penyimpangan μ = T ± 1,5σ. Hal
tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:
Angka sigma merupakan sebuah simbol yang digunakan dalam notasi statistk untuk menunjukkan standart deviasi dari suatu populasi. Angka sigma (σ) sendiri seringkali dihubungkan dengan kemampuan proses yang terjadi terhadap produk yang diukur dengan defect per million opportunities (DPMO). Sumber dari defect atau cacat hampir selalu dihubungkan dengan variasi, misalnya variasi material, prosedur, perlakuan proses.
Angka sigma merupakan sebuah simbol yang digunakan dalam notasi statistk untuk menunjukkan standart deviasi dari suatu populasi. Angka sigma (σ) sendiri seringkali dihubungkan dengan kemampuan proses yang terjadi terhadap produk yang diukur dengan defect per million opportunities (DPMO). Sumber dari defect atau cacat hampir selalu dihubungkan dengan variasi, misalnya variasi material, prosedur, perlakuan proses.
Dalam penerapannya secara global, ada beberapa tahapan yang harus
dilakukan agar dapat mencapai target pengendalian dan peningkatan kualitas
dengan Six Sigma. Secara umum
tahapan-tahapannya adalah sebagai berikut :
1. Define
Tahap ini merupakan langkah operasional pertama dalam program
peningkatan kualitas Six Sigma. Adapun yang dilakukan pada tahap ini adalah (Gaspersz, 2002) :
1)
Pemilihan proyek terbaik berdasarkan pada identifikasi proyek yang
sesuai dengan kebutuhan, kapabilitas, dan tujuan perusahaan.
2)
Mendefinisikan peran orang-orang yang terlibat dalam proyek Six Sigma.
3)
Mendefinisikan proses kunci dan pelanggan.
2. Measure
Merupakan langkah operasional
kedua dalam program peningkatan kualitas Six
Sigma yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengukuran utama dari
efektivitas dan efisiensi dan menerjemahkannya kedalam konsep Six Sigma. Terdapat tiga hal pokok yang
harus dilakukan, yaitu (Gaspersz, 2002) :
1)
Menetapkan
karakteristik kualitas kunci (CTQ). Dalam malaksanakan pengukuran karakteristik
kualitas harus memperhatikan aspek internal dan aspek eksternal dari
organisasi. Asperk internal dapat berupa tingkat kecacatan produk, biaya-biaya
karena kualitas jelek (Cost of poor quality/COPQ)
seperti rework. Sedangkan aspek
eksternal dapat berupa kepuasan pelanggan, pangsa pasar, dll.
2) Mengembangkan suatu rencana
pengumpulan data melalui pengukuran yang dapat dilakukan pada tingkat proses,
output, dan/atau outcome (data atribut, data variabel)
3) Mengukur kinerja sekarang (current performance) pada tingkat
proses, output, dan/atau outcome untuk ditetapkan sebagai baseline kinerja pada
awal proyek Six Sigma (DPMO, seven
tools : control chart).
3. Analyze
Analyze merupakan langkah operasional
ketiga dalam peningkatan kualitas Six
Sigma. Tahap ini meliputi :
1) Menentukan stabilitas dan
kapabilitas proses
Pada analisis kapabilitas proses yang
menggunakan data variable dimana memiliki data continue dan datanya diperoleh
sebagai hasil pengukuran.
2) Mengidentifikasi sumber-sumber
dan akar penyebab kecacatan atau kegagalan
Dalam proyek Six
Sigma dibutuhkan identifikasi masalah secara tepat, menemukan sumber akar
penyebab dari suatu masalah kualitas dan mengajukan ssolusi masalah yang
efektif dan efisien. Sedangkan untuk mendapatkan akar penyebab dari suatu
masalah, diperlukan prinsip yang berkaitan dengan hukum sebab akibat.
3.
Improve
Pada tahap ini dirancang solusi dalam melakukan
pengendalian dan peningkatan kualitas dengan Six Sigma pada layanan yang paling kritis itu berupa usulan
perbaikan kualitas bagi setiap CTQ potensial sehingga diharapkan dapat
meningkatkan performansi kualitas layanan tersebut dengan meningkatnya nilai
DPMO dan tingkat kapabilitas Sigma.
Improve merupakan fase meningkatkan proses (x) dan menghilangkan sebab-sebab
cacat. Pada fase sebelumnya yaaitu, fase measure kita telah menetapkan variable
faktor (x) untuk masing-masing variable respon (y). Dan pada fase ini, kita memilih
strategi peningkatan variable faktor.
4. Control
Merupakan tahap operasional terakhir dalam
pengendalian dan peningkatan kualitas dengan Six Sigma. Pada tahap ini akan dibuat lembar control yang digunakan
untuk mengendalikan proses atau layanan pada saat implementasi sehingga dapat
tercapai target Six Sigma.
Hasil-hasil implementasi tersebut didokumentasikan dan disebarluaskan,
praktek-praktek terbaik yang sukses dalam peningkatan performansi kualitas
layanan distandardisasikan dan disebarluaskan, prosedur-prosedur
didokumentasikan dan dijadikan pedoman standar kerja. Selanjutnya pengendalian
dan peningkatan kualitas dengan Six Sigma
pada layanan atau proses lain ditetapkan sebagai layanan atau proses baru yang
harus ditingkatkan melalui siklus DMAIC. Melalui cara ini maka akan terjadi
peningkatan kualitas yang terintegrasi, pembelajaran, dan sharing atau transfer
pengetahuan-pengetahuan baru dalam organisasi.

No Deposit Bonus at Lucky Nugget Casino
BalasHapusLucky 경주 출장안마 Nugget 당진 출장샵 is rated 3.9 서울특별 출장마사지 out of 5 in 2021 by our members and 33% of them said: "lucky nugget casino". "lucky nugget casino". "lucky nugget casino". "lucky nugget 안산 출장샵 casino". "lucky 여주 출장마사지 nugget casino". "lucky nugget casino".