Terdapat beberapa definisi TQM:
• Tobin (1990) mendefinisikan TQM sebagai usaha
terintegrasi total untuk mendapatkan manfaat kompetitif dengan cara secara
terus-menerus memperbaiki setiap faset budaya organisasional.
• Witcher (1990) menekankan pada pentingnya
aspek-aspek TQM menggunakan penjelasan berikut: Total: Menandakan bahwa setiap orang dalam
perusahaan harus dilibatkan (bahkan mungkin pelanggan dan para pemasok). Quality:
Mengindikasikan bahwa keperluan-keperluan pelanggan sepenuhnya dipenuhi. Management:
Menjelaskan bahwa eksekutif senior pun harus komit secara penuh
• Feigenbaum (1983) mendefinisikan TQM sebagai
dampak kontrol kualitas total diseluruh organisasi. Feigenbaum (1991)
memberikan definisi yang lebih lengkap dari TQM: "sistem kualitas total dijelaskan
sebagai salah satu yang merangkum keseluruhan siklus kepuasan pelanggan dari
interpretasi keperluannya terutama pada tahap pemesanan, melalui pasokan produk atau jasa dari harga ekonominya
dan pada persepsinya dari produk setelah dia telah menggunakannya sepanjang
perioda waktu"
TQM mencakup semua aktifitas-aktifitas
keseluruhan fungsi manajemen yang menentukan kebijakan kualitas, sasaran, dan
tanggungjawabnya dan mengimplementasikannya dengan menggunakan perangkat seperti
perencanaan kualitas, kontrol kualitas, pemastian kualitas dan perbaikan
kualitas dalam sistem kualitas (Wheaton dan Schrott, 1999, p.188).
TQM adalah filosofi manajemen dan suatu pola
pelibatan teknik-teknik perbaikan kualitas yang telah banyak diadopsi oleh
perusahaan Amerika Serikat. Dengan menerapkan filosofi dan teknik TQM ini, pebisnis
menjalankan perbaikan terus-menerus disemua operasi dengan mencari dan
menemukan alasan bagi kinerja kualitas yang jelek dan pelayanan pelanggan dan mengimplementasikan
metoda untuk mengurangi dan atau menghilangkan penyebab kualitas yang jelek
tersebut. Dasar filosofi TQM adalah ide pencegahan kecacatan (defect) versus
pendeteksian kecacatan. Secara tradisional, usaha-usaha kontrol kualitas telah
berkonsentrasi pada pendeteksian kecacatan melalui inspeksi setelah produk
dibuat / dirakit. Proses ini berakibat rework dan limbah. Dalam filosofi TQM,
kontrol kualitas adalah aktifitas terus-menerus
(on-going) diseluruh siklus proses: berfokus pada pemahaman penyebab
masalah dan berusaha mengurangi atau menghilangkan dampaknya dalam bentuk yang
paling efektif-biaya. Dengan menggunakan pemahaman karyawan terhadap
masalah-masalah pekerjaannya, TQM
membuka jalan kedalam kemampuan kreatifitas
karyawan untuk menemukan solusi masalah tersebut. TQM berfokus pada orang
(people): mendorong formasi tim dan pemberdayaan karyawan.
Pemberdayaan karyawan / employee empowerment artinya: memberikan
karyawan otoritas dan tanggung jawab membuat keputusan dan mengambil tindakan.
Empowerment ditujukan memungkinkan karyawan memuaskan pelanggan di kontak
pertama, untuk memperbaiki proses dan meningkatkan produktifitas, dan hasil
bisnis organisasi yang lebih baik. Karyawan yang terberdayakan memerlukan informasi
untuk membuat keputusan yang tepat, sehingga organisasi perlu menyediakan
informasi tersebut dalam waktu yang tepat dan cara yang berguna (Baldrige
Criteria, 2001). TQM tidak hanya memenuhi keperluan-keperluan pelanggan namun
juga menyediakan kepuasan mereka. Beberapa perusahaan, seperti kartu-kartu
Rover, memiliki kepuasan pelanggan yang luar biasa sebagai misi perusahaan
mereka. Diantara fitur-fitur lain, keperluan-keperluan pelanggan dapat meliputi
pengiriman, ketersediaan, kepercayaan, dapat dipelihara, dan efektif biaya.
Sementara berhubungan dengan hubungan pelanggan-pemasok, pemasok harus
mendirikan aktifitas pemasaran yang dibayar dengan tugas ini. (Halog, 2002).
Pemasar harus tentu saja, tidak hanya mengerti
keperluan-keperluan pelanggan secara utuh, namun juga kemampuan mereka untuk
memenuhi keinginan-keinginan pelanggan. Dalam organisasi, dan antara pelanggan
dan pemasok, transfer informasi berkaitan dengan kebutuhan ini seringkali
sangat rendah atau tidak ada sama sekali. Karena itu pengkajian yang berlanjut
dari keperluan tersebut dan kemampuan untuk memenuhinya adalah harga memelihara
kualitas. Sebenarnya filosofi TQM terletak pada menggunakan dasar pengetahuan sebagai aset organisasi.
Setiap orang termasuk top manajemen perlu dididik dan dilatih untuk mengerjakan
tugasnya dengan lebih baik. (Halog, 2002). Saat ini beberapa perusahaan sedang
mengembangkan sistem-sistem kualitas mereka dengan tujuan:
- Mengurangi kegagalan di waktu pertama / sedini
mungkin
- Mengurangi biaya-biaya klaim pelanggan
- Getting things right the first time, dan
- Memperbaiki jasa pada pelanggan dan untuk
meningkatkan daya kompetisi mereka
TQM yang baik harus memiliki karakteristik
berikut: kepemimpinan; kepuasan pelanggan total;
keterlibatan total; pencegahan error; komitmen;
perbaikan terus-menerus; pelatihan dan pendidikan; penghargaan dan pengakuan;
dan kerjasama dan tim kerja. Terdapat kesesuaian pendapat di kalangan para ahli
bahwa komitmen manajemen, pelatihan, kerja tim, kepemimpinan, motivasi, dst;
masing-masing memiliki peran vital dan komplementer untuk membangun lingkungan
kualitas total. Kontribusi terpenting dalam menciptakan lingkungan kualitas
total adalah mengenali kebutuhan bagi program-program perbaikan terus-menerus
menggunakan perangkat dan teknik-teknik SPC (Statistical Process Control)
seperti halnya
7 Tools berikut:
1. checksheet
2. Diagram akar dan penyebab
3. Histogram
4. Flowchart
5. Control chart
6. Pareto diagram
7. scatter diagram
Kemudian dikenal pula perangkat yang juga
termasuk SPC: 7 New Tools:
1. Diagram hubungan
2. Diagram afinitas (KJ method)
3. Diagram sistematis
4. Diagram matriks
5. Metoda matriks data-analisa
6. Grafik PDPC (Process Decision Programme
Chart)
7. Diagram panah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar