Jumat, 17 Februari 2012

Quality Function Deployment


Metode Quality Function Deployment (QFD) pertama kali dikembangkan di Jepang
pada tahun 1972 oleh Mitsubishi untuk digunakan digalangan kapal di Kobe dan pada
tahun 1978 Yoji Akao dan Shigeru Mizuno mempublikasikan metode ini. Metode
QFD didefinisikan sebagai suatu proses atau mekanisme terstruktur untuk menentukan
kebutuhan pelanggan dan menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan tersebut ke dalam
kebutuhan teknis yang relevan, dimana masing-masing area fungsional dan level
organisasi dapat mengerti dan bertindak (Dr. Vincent Gaspersz, 2001).
Quality Function Deployment (QFD) adalah metode perencanaan dan
pengembangan secara terstruktur yang memungkinkan tim pengembangan
mendefinisikan secara jelas kebutuhan dan harapan pelanggan, dan mengevaluasi
kemampuan produk atau jasa secara sistematik untuk memenuhi kebutuhan dan
harapan tersebut (Wahyu, 1999 ).

QFD adalah metode terstruktur yang digunakan dalam perencanaan dan
pengembangan produk untuk menetapkan spesifikasi kebutuhan dan keinginan
pelanggan, serta mengevaluasi secara sistematis kapabilitas suatu produk atau jasa
dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen (Lou Cohen, 1995).
Tujuan dari QFD sendiri tidak hanya memenuhi sebanyak mungkin harapanharapan pelanggan,  tetapi juga berusaha melampaui harapan-harapan pelanggan
sebagai cara untuk berkompetisi dengan saingannya, sehingga konsumen tidak
menolak dan tidak complaint, tetapi malah mengiginkan produk itu.
 Titik awal (starting point) QFD adalah pelanggan serta keinginan dan
kebutuhan dari pelanggan. Dalam QFD hal ini disebut “suara konsumen” (voice of
customer) pekerjaan dari tim QFD adalah mendengar suara dari pelanggan. Proses
QFD dimulai dengan suara pelanggan dan kemudian berlanjut melalui aktivitas utama
yaitu (Dr. Vincent Gaspersz, 2001) :
1. Perencanaan produk (product planning) yaitu menerjemahkan kebutuhankebutuhan pelanggan kedalam kebutuhan teknik (technical requirements).
2. Desain produk (produk design) yaitu menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan
teknik ke dalam karakteristik komponen.
3. Perencanaan proses (process planning) yaitu mengidentifikasikan langkahlangkah proses dan parameter-parameter serta menerjemahkan ke dalam
karakteristik proses.
4. Perencanaan pengendalian proses (process planning control) yaitu menetapkan
atau menentukan metode-metode pengendalian untuk mengendalikan
karakteristik proses.
Proses QFD dibuat dalam sebuah matriks rumah mutu yang disebut dengan
nama Matriks House of Quality. Matriks ini menjelaskan apa yang menjadi kebutuhan
dan harapan pelanggan dan bagaimana memenuhinya. Bentuk matriks house of quality
itu dapat dilihat pada gambar : 


Keterangan dari setiap bagiannya adalah sebagai berikut (Lou Cohen, 1995) :
a. Customer need
Berisi daftar semua kebutuhan dan harapan pelanggan yang biasanya
ditentukan dengan penelitian secara kualitatif. Cara mengetahui suara
pelanggan dapat dilakukan dengan wawancara langsung dengan pelanggan
untuk mengetahui keinginan, harapan, keluhan, maupun saran pelanggan, dan
dapat juga dilakukan dengan pembagian kuisioner.
b. Planning matrix, merupakan matriks perencanaan produk yang berisikan data
kuantitatif kebutuhan konsumen dan tujuan-tujuan performansi yang hendak
dicapai.
c. Tehcnical response, merupakan parameter teknik yang memberikan gambaran
bagaimana cara tim pengembangan produk/jasa pelayanan dalam merespon
kebutuhan dan keinginan konsumen. Suara konsumen yang bersifat kualitatif
maupun kuantitatif harus diterjemahkan ke dalam suara pengembang (voice of
developer).
d. Relationship, menunjukkan hubungan antara parameter teknik dengan
kebutuhan dan keinginan konsumen yang telah dimodelkan dalam QFD.
Hubungan tersebut merupakan dari tim pengembangan yang dapat bersifat
kuat, moderat, dan lemah atau tidak ada hubungannya.
e. Tehcnical corelation, menggambarkan hubungan yang terjadi antar respon
teknis yang dapat dibedakan menjadi korelasi positif sangat kuat, positif cukup
kuat, negatif sangat kuat serta tidak ada hubuungannya.
f. Tehcnical matrix,  berisi informasi berupa prioritas dari aspek teknis produk
serta target teknis yang direncanakan berdasarkan  competitive benchmark
untuk tujuan pengembangan kualitas produk.


Manfaat QFD
Ada tiga manfaat utama yang diperoleh perusahaan bila menggunakan metode QFD 
yaitu (Wahyu, 1999): 
a. Mengurangi biaya, hal ini dapat terjadi karena perbaikan yang dilakukan 
benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan, sehingga tidak 
ada pengulangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah 
ditetapkan pelanggan. 
b. Meningkatkan pendapatan, dengan pengurangan biaya untuk hasil yang 
diterima akan lebih meningkat. Dengan QFD produk atau jasa yang dihasilkan 
akan lebih dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. 
c. Pengurangan waktu produksi, QFD adalah kunci penting dalam pengurangan 
biaya produksi. QFD akan membuat tim pengembangan produk atau jasa 
untuk membuat keputusan awal  dalam proses pengembangan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar