Metode Quality Function Deployment (QFD) pertama kali
dikembangkan di Jepang
pada tahun 1972 oleh Mitsubishi untuk digunakan digalangan
kapal di Kobe dan pada
tahun 1978 Yoji Akao dan Shigeru Mizuno mempublikasikan
metode ini. Metode
QFD didefinisikan sebagai suatu proses atau mekanisme
terstruktur untuk menentukan
kebutuhan pelanggan dan menerjemahkan kebutuhan-kebutuhan
tersebut ke dalam
kebutuhan teknis yang relevan, dimana masing-masing area
fungsional dan level
organisasi dapat mengerti dan bertindak (Dr. Vincent
Gaspersz, 2001).
Quality Function Deployment (QFD) adalah metode perencanaan
dan
pengembangan secara terstruktur yang memungkinkan tim
pengembangan
mendefinisikan secara jelas kebutuhan dan harapan pelanggan,
dan mengevaluasi
kemampuan produk atau jasa secara sistematik untuk memenuhi
kebutuhan dan
harapan tersebut (Wahyu, 1999 ).
QFD adalah metode
terstruktur yang digunakan dalam perencanaan dan
pengembangan produk untuk menetapkan spesifikasi kebutuhan
dan keinginan
pelanggan, serta mengevaluasi secara sistematis kapabilitas
suatu produk atau jasa
dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen (Lou Cohen,
1995).
Tujuan dari QFD sendiri tidak hanya memenuhi sebanyak
mungkin harapanharapan pelanggan, tetapi
juga berusaha melampaui harapan-harapan pelanggan
sebagai cara untuk berkompetisi dengan saingannya, sehingga
konsumen tidak
menolak dan tidak complaint, tetapi malah mengiginkan produk
itu.
Titik awal (starting
point) QFD adalah pelanggan serta keinginan dan
kebutuhan dari pelanggan. Dalam QFD hal ini disebut “suara
konsumen” (voice of
customer) pekerjaan dari tim QFD adalah mendengar suara dari
pelanggan. Proses
QFD dimulai dengan suara pelanggan dan kemudian berlanjut
melalui aktivitas utama
yaitu (Dr. Vincent Gaspersz, 2001) :
1. Perencanaan produk (product planning) yaitu menerjemahkan
kebutuhankebutuhan pelanggan kedalam kebutuhan teknik (technical requirements).
2. Desain produk (produk design) yaitu menerjemahkan
kebutuhan-kebutuhan
teknik ke dalam karakteristik komponen.
3. Perencanaan proses (process planning) yaitu
mengidentifikasikan langkahlangkah proses dan parameter-parameter serta
menerjemahkan ke dalam
karakteristik proses.
4. Perencanaan pengendalian proses (process planning
control) yaitu menetapkan
atau menentukan metode-metode pengendalian untuk
mengendalikan
karakteristik proses.
Proses QFD dibuat dalam sebuah matriks rumah mutu yang
disebut dengan
nama Matriks House of Quality. Matriks ini menjelaskan apa
yang menjadi kebutuhan
dan harapan pelanggan dan bagaimana memenuhinya. Bentuk matriks house of qualityitu dapat dilihat pada gambar :
Keterangan dari setiap bagiannya adalah sebagai berikut (Lou
Cohen, 1995) :
a. Customer need
Berisi daftar semua kebutuhan dan harapan pelanggan yang
biasanya
ditentukan dengan penelitian secara kualitatif. Cara
mengetahui suara
pelanggan dapat dilakukan dengan wawancara langsung dengan
pelanggan
untuk mengetahui keinginan, harapan, keluhan, maupun saran
pelanggan, dan
dapat juga dilakukan dengan pembagian kuisioner.
b. Planning matrix, merupakan matriks perencanaan produk
yang berisikan data
kuantitatif kebutuhan konsumen dan tujuan-tujuan performansi
yang hendak
dicapai.
c. Tehcnical response, merupakan parameter teknik yang
memberikan gambaran
bagaimana cara tim pengembangan produk/jasa pelayanan dalam
merespon
kebutuhan dan keinginan konsumen. Suara konsumen yang
bersifat kualitatif
maupun kuantitatif harus diterjemahkan ke dalam suara
pengembang (voice of
developer).
d. Relationship, menunjukkan hubungan antara parameter
teknik dengan
kebutuhan dan keinginan konsumen yang telah dimodelkan dalam
QFD.
Hubungan tersebut merupakan dari tim pengembangan yang dapat
bersifat
kuat, moderat, dan lemah atau tidak ada hubungannya.
e. Tehcnical corelation, menggambarkan hubungan yang terjadi
antar respon
teknis yang dapat dibedakan menjadi korelasi positif sangat
kuat, positif cukup
kuat, negatif sangat kuat serta tidak ada hubuungannya.
f. Tehcnical matrix,
berisi informasi berupa prioritas dari aspek teknis produk
serta target teknis yang direncanakan berdasarkan competitive benchmark
untuk tujuan pengembangan kualitas produk.
Manfaat QFD
Ada tiga manfaat utama yang diperoleh perusahaan bila menggunakan metode QFD
yaitu (Wahyu, 1999):
a. Mengurangi biaya, hal ini dapat terjadi karena perbaikan yang dilakukan
benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan harapan pelanggan, sehingga tidak
ada pengulangan pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang telah
ditetapkan pelanggan.
b. Meningkatkan pendapatan, dengan pengurangan biaya untuk hasil yang
diterima akan lebih meningkat. Dengan QFD produk atau jasa yang dihasilkan
akan lebih dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan.
c. Pengurangan waktu produksi, QFD adalah kunci penting dalam pengurangan
biaya produksi. QFD akan membuat tim pengembangan produk atau jasa
untuk membuat keputusan awal dalam proses pengembangan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar