Kita membutuhkan pola
pikir baru, yang lebih simpel dan menyelesaikan masalah. Pola pikir yang
terlalu melingkar-lingkar, penuh syarat ini itu yang tidak logis, akan
menghambat kita dari kemajuan. Salah satunya kita harus belajar dari pola pikir
Bangsa Jepang.
Mathew E. May, The Elegant Solution Toyota’s Formula for Mastering Sinnovation (2007) menceritakan kisah keajaiban seorang manusia Jepang bernama Sakichi Toyoda (dialah yang meletakkan fondasi industri otomotif Toyota):
”Seorang pria muda mengamati ibunya yang seharian bekerja keras dalam rumah mereka yang sederhana -menenun kain menggunakan alat tenun manual, suatu alat primitif yang tidak pernah berubah selama berabad-abad. Dia merasa sedih setiap kali melihat ibunya membuang hasil kerjanya seharian hanya gara-gara ada selembar benang yang putus di kain yang sudah jadi itu. Pemuda itu baru berusia 20 tahun, suka menciptakan alat baru, energik, dan sangat ingin menguasai dunia. Pertukangan kayu adalah keahliannya, tetapi bukan panggilan jiwanya. Meskipun kaum tua tidak menyetujuinya, dia menantang dirinya untuk membuat alat tenun yang lebih baik, merancang prototipe, membuat model percobaan, dan menggunakan keahlian pertukangan kayu dengan cara-cara kreatif yang dianggap eksentrik oleh orang lain. Dia menerima hak paten atas alat tenun yang digerakkan tangan yang meningkatkan mutu dan produktivitas secara dramatis. Dia belum puas. Dia mulai mengembangkan mesin tenun bertenaga.
Mathew E. May, The Elegant Solution Toyota’s Formula for Mastering Sinnovation (2007) menceritakan kisah keajaiban seorang manusia Jepang bernama Sakichi Toyoda (dialah yang meletakkan fondasi industri otomotif Toyota):
”Seorang pria muda mengamati ibunya yang seharian bekerja keras dalam rumah mereka yang sederhana -menenun kain menggunakan alat tenun manual, suatu alat primitif yang tidak pernah berubah selama berabad-abad. Dia merasa sedih setiap kali melihat ibunya membuang hasil kerjanya seharian hanya gara-gara ada selembar benang yang putus di kain yang sudah jadi itu. Pemuda itu baru berusia 20 tahun, suka menciptakan alat baru, energik, dan sangat ingin menguasai dunia. Pertukangan kayu adalah keahliannya, tetapi bukan panggilan jiwanya. Meskipun kaum tua tidak menyetujuinya, dia menantang dirinya untuk membuat alat tenun yang lebih baik, merancang prototipe, membuat model percobaan, dan menggunakan keahlian pertukangan kayu dengan cara-cara kreatif yang dianggap eksentrik oleh orang lain. Dia menerima hak paten atas alat tenun yang digerakkan tangan yang meningkatkan mutu dan produktivitas secara dramatis. Dia belum puas. Dia mulai mengembangkan mesin tenun bertenaga.
Pada tahun 1898, dia menyempurnakan alat tenun pertama di Jepang
yang ditenagai uap, yang memungkinkan pabrik-pabrik tekstil meningkatkan
produktivitasnya hingga empat kali lipat dan mengurangi pengeluaran hingga
setengahnya. Alat tenun buatannya adalah yang bermutu paling tinggi, berbiaya
paling rendah, dan paling gampang digunakan —sehingga mempermalukan alat-alat
tenun terbaik dari Jerman dan Prancis. Bisnis berkembang pesat dan
kepopulerannya menanjak di Jepang. Perjalanannya untuk mencari kesempurnaan
terus mendorongnya maju dan menciptakan serangkaian inovasi kecil dalam waktu
singkat. Setelah mencari kesempurnaan selama tiga dekade, dia merancang sebuah
mekanis untuk secara otomatis mematikan alat tenun itu setiap kali ada benang
yang putus. Hal ini mengubah dunia. Dibutuhkan waktu lima tahun lagi untuk
menyempurnakannya. Maka, dari peningkatan kecil tetapi terus-menerus dengan
hasil-hasil radikal dan hasrat kuat untuk menolong orang, lahirlah Pabrik Alat
Tenun Otomatis Toyoda, cikap bakal Toyota Motor Company.
Setelah hampir seumur hidup terus mencari, Sakichi Totoyoda
menemukan solusi masa depan. Kisah Sakichi Toyoda bukanlah tentang penemuan
atau pengembangan teknologi mesin tenun otomatis di Jepang. Kisah ini adalah
tentang perjalanan yang hampir bersifat spiritual dari seorang pria untuk
memecahkan problem yang sangat nyata yang dihadapi oleh masyarakat di
sekitarnya.
Bacalah kisah ini, sebuah penemuan dan ikhtiar menemukan yang
terbaik diarahkan bukan untuk pekerjaan itu sendiri melainkan untuk memecahkan
problem sangat nyata yang dihadapi masyarakat sekitarnya. Bukankah semua orang
perlu juga memiliki prinsip yang sama: ”menemukan yang terbaik untuk memecahkan
problem sangat nyata yang dihadapi masyarakat sekitarnya” bukan untuk pekerjaan
itu sendiri.
Kisah inilah kemudian yang membuat bisnis Toyota selalu lebih
unggul ketimbang siapapun. Bahkan kemudian beberapa prinsip manajemen Toyota
dijadikan rujukan oleh semua perusahaan lain, misalnya saja prinsip kaizen.
Kaizen adalah melakukan perbaikan terus-menerus yang dilakukan semua orang
(baik karyawan atau kepemimpinan). Kaizen mendorong semua orang untuk tidak
merasa ”sudah sempurna” melakukan sesuatu. Semuanya belum maksimum, semuanya
bisa diusahakan menjadi lebih baik lagi. Kaizen membuat Anda menghargai
pekerjaan Anda lebih dari sekadar karena dalam pekerjaan itu Anda mendapatkan
gaji. Pekerjaan hanyalah cara yang diberi Tuhan agar Anda melayani dan memberi
manfaat kepada banyak orang.
Sakichi Toyoda, adalah seorang filsuf yang merumuskan kerja keras.
Ia mengemukakan sejumlah prinsip dasar yang kemudian memengaruhi ilmu
manajemen. Mari kita teruskan menelusuri kisah Toyoda tua ini.
Pada tahun 1929 dia mengirimkan puteranya, Kichiro Toyoda, ke
Inggris untuk merundingkan hak patennya atas mesin tenun yang ”bebas dari
kesalahan”. Hasilnya, ia mendapatkan 100.000 pound Inggris dari Platt Brothers
(produsen utama peralatan tenun). Pada tahun 1930 dia menggunakan modal
tersebut untuk membangun Toyota Motor Corporation dengan anaknya (Kichiro
Toyoda) sebagai direkturnya.
Semua semua orang meragukan kemampuan Kichiro dalam memimpin
perusahaan. Kichiro adalah pemudah yang lemah dan sering sakit, pokoknya tidak
pantas memimpin. Namun Sakichi membantah keraguan itu, ia justru menantang
anaknya yang lemah itu untuk membuka bisnis baru: mesin motor. Ya, dia bisa
saja mewariskan perusahaan mesin tenun kepada anaknya, itu lebih mudah dan
aman. Tapi Sakichi melihat masa depan bahwa mesin tenun tenaga uapnya akan
segera digantikan oleh teknologi mobil, ia pun ingin anaknya memiliki
kesempatan yang sama dalam berkontribusi terhadap kehidupan manusia.
Sakichi berkata kepada Kichiro, ” Setiap orang harus menangani
beberapa proyek besar setidaknya satu kali dalam hidupnya. Saya mendedikasikan
sebagian besar dari hidup saya untuk menciptakan berbagai jenis alat tenun
baru. Sekarang giliranmu. Kamu harus berupaya untuk menyelesaikan sesuatu yang
akan bermanfaat bagi masyarakat”. Kichiro menerima tantangan itu, maka jadilah
mobil-mobil Toyota berseliweran di seluruh jalanan dunia.




